Setelah apa yang mereka lakukan dalam film-film sebelumnya, khususnya 3 film terakhir, franchise Fast & Furious identik dengan sekuens aksi yang ridiculously spectacular
dan untuk film-film selanjutnya, franchise ini seperti punya kewajiban
untuk melewati batas kegilaan yang bisa mereka capai. Kegilaan bermobil
dengan Fast & Furious sama dengan yang dilakukan Tom Cruise dengan Mission: Impossible. Fast & Furious 8 atau yang di beberapa negara punya judul alternatif The Fate of the Furious,
menawarkan sesuatu yang lebih besar, lebih bombastis, dan lebih konyol,
hingga kita
akan selalu tergoda untuk bertanya "bagaimana mereka
melakukannya?" ketika menyaksikan sebuah sekuens aksi.
Namun di waktu kita tidak menyaksikan hal tersebut — yang relatif banyak
mengingat durasi filmnya yang mencapai 2 jam 16 menit, kita juga
mungkin seringkali ingin bertanya "kapan adegan aksi berikutnya?". Tentu
saja, sebagai penonton kasual, saya juga sangat menikmati sekuens gila
semacam "mobil-mobil zombie" atau "mobil vs kapal selam". Tak banyak
film yang mampu menyuguhkan
set pieces seseru ini. Pertanyaan
tadi mungkin bisa disebut sebagai testamen atas betapa seru adegan
aksinya, namun kita juga bisa memakainya sebagai testamen atas betapa
menjemukannya elemen yang menyatukan adegan-adegan aksi tersebut.
(Catatan: Oh, tanpa bermaksud mengabaikan bayi imut yang mencuri
perhatian (nanti anda akan tahu) dan mendiang Paul Walker, konsep
"family" yang dibawakan kali ini sedikit
cringy.)
Banyak yang menyebut bahwa kita tak perlu berpikir untuk menonton film
seperti ini; bahwa plot tak penting. Penulis naskah langganan
Fast & Furious,
Chris Morgan
mungkin juga mendengarnya dan oleh karenanya ia tak begitu peduli
dengan penulisan skrip asal bisa memberi benang merah seadanya antara
stunt yang satu dengan stunt yang lain. Plot boleh jadi tak penting,
namun ia harus bisa mengikat kita. Dan saya pikir, level keterikatan
kita dengan
Fast & Furious 8 sama "kuat"-nya dengan
Fast & Furious 4. Iya, yang itu.
Film ini dibuka dengan sekuens yang lumayan simpel tapi tak kalah luar biasa. Dom (
Vin Diesel) dan istrinya, Letty (
Michelle Rodriguez)
sedang liburan di Kuba yang tampaknya sekarang menjadi surga macho yang
dipenuhi dengan mobil klasik dan wanita berpakaian mini. Ketika tahu
bahwa sepupunya berurusan dengan rentenir, Dom melakukan apa yang harus
dilakukan Dom: memacu mobil dengan tambahan NOS. Namun kali ini dengan
arah mundur dan dalam kondisi dilalap api!
"Apapun mobilnya, yang penting adalah siapa yang di balik kemudi," ujar Dom. Yeah, hanya Dom yang bisa melakukannya.
Bulan madunya terganggu saat Dom bertemu dengan Cipher (
Charlize Theron),
teroris siber yang bermaksud merekrutnya untuk melakukan misi jahat.
Apa yang bisa membuat Dom membelot dan mengkhianati rekan-rekannya yang
sudah disebutnya sebagai KELUARGA? Cipher memegang kuncian besar yang
nanti akan terungkap. Misinya berskala global, melibatkan alat mata-mata
"God's Eye" dari film sebelumnya serta kode luncur nuklir.
[mantan] Rekan-rekan Dom kemudian direkrut menjadi agen pemerintah oleh Mr Nobody (
Kurt Russell) dan ajudannya Little Nobody (
Scott Eastwood),
karena menurut mereka hanya rekan Dom yang bisa mencari Dom, dan jika
Dom ketemu, Cipher juga akan ketemu. Plot utamanya hanya ini, namun
meski kita bisa menebak akhirnya, ada beberapa poin plotnya yang relatif
tak begitu
predictable, which is a good thing for this kind of movie.
Dengan begitu banyaknya tokoh, hanya sedikit yang bisa dilakukan untuk
karakter mereka dalam sebuah film. Kita bertemu kembali dengan Roman (
Tyrese Gibson), Parker (
Ludacris), Ramsey (
Nathalie Emmnuel), Hobbs (
Dwayne Johnson) serta Deckard Shaw (
Jason Statham) yang sekarang berpindah kubu. Di kebanyakan waktu, saat tidak menggerakkan plot, mereka melontarkan celutukan, ledekan, atau
one-liner.
Namun para pemerannya memang punya daya tarik tersendiri. Saya cukup
menikmati ledek-ledekan antara Dwayne Johnson dengan Statham yang
seperti berlomba untuk mendapat pengakuan siapa yang lebih macho,
padahal franchise ini sudah memberikan prediketnya pada Vin Diesel.
Saat adegan aksi,
Fast & Furious 8 mengganti persnellingnya
ke mode maksimal. Anda pernah melihat ratusan mobil berkonvoi di jalanan
kota dalam kecepatan tinggi? Adegan terbaiknya adalah ketika Cipher
mengendalikan ratusan mobil tanpa sopir dan menjadikannya pasukan zombie
untuk mengejar satu mobil. Berbagai macam mobil tumpah, bergerombol,
bertabrakan, dan terjun bebas tak terkendali. Untuk
set piece berskala masif ini, sutradara
F. Gary Gray (
The Italian Job, Straight Outta Compton)
menyajikan ketegangan yang membuat saya berdebar-debar meski belum
sekelas intensitas yang diberikan Justin Lin untuk adegan melarikan
brankas dalam
Fast Five. Yang sedikit
underwhelming adalah
adegan pamungkas yang seharusnya lebih spektakuler, dimana mobil-mobil
jagoan kita berpacu di atas es yang tipis sembari dikejar oleh kapal
selam di bawahnya. Lebih seru menyaksikan adegan Dwayne Johnson dan
Statham melarikan diri dari penjara.
Dalam konteks film aksi,
Fast & Furious 8 adalah film yang
digarap dengan terampil. Efek spesialnya bagus dan ia menampilkan
balapan, tabrakan dan ledakan yang anda harapkan dalam sebuah film
berjudul "Fast" & "Furious" yang mungkin punya subjudul "Fiery"
& "Ridiculous". Namun ini adalah
feature film, dan kita butuh
sesuatu untuk menyambungkan keempat titik ini dengan kompeten, bukan?
Produk akhir dari sekuens aksi lebih dari sekedar parade spesial efek,
melainkan juga elemen intrinsik seperti intensitas.
But you know what? The last film made $1.5 billion at box office, and at this point, this franchise is unstoppable.